PENGGUNAAN ISTILAH ‘WISATA ALAM’ DAN ‘EKOWISATA’: SEBUAH TELAAH SINGKAT

  • Musadad Universitas Riau
  • Nurlena Telkom University
  • Amad Saeroji Universitas Sebelas Maret
DOI: https://doi.org/10.35814/tourism.v8i2.1664
Abstract views: 86 | pdf downloads: 73
Keywords: wisata alam; ekowisata; pembatasan pengunjung; partisipasi masyarakat

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan penggunaan istilah ‘ekowisata’ pada penamaan berbagai destinasi wisata berbasis alam di Indonesia serta menunjukkan dua faktor yang sangat penting dalam perencanaan, pengembangan, dan operasional ekowisata namun cenderung terabaikan, yaitu pembatasan pengunjung dan keterlibatan masyarakat lokal. Berbagai pihak termasuk pengelola dan pemerintah lokal perlu diberi pemahaman mengenai apa itu wisata alam dan ekowisata mengingat kedua konsep tersebut berbeda dan tidak semua wisata alam dapat dikatakan ekowisata. Mereka juga perlu diedukasi mengenai pentingnya pembatasan pengunjung dan keterlibatan masyarakat lokal pada destinasi-destinasi ekowisata. Kedua faktor ini sangat penting untuk mempertahankan kelestarian destinasi ekowisata.

References

Buckley, R. (2003). Case Studies in Ecotourism. Oxon, UK: CABI Publishing
Damanik, J. and Weber, H.F. (2006). Perencanaan Ekowisata Dari Teori ke Aplikasi. Yogyakarta: PUSPAR UGM dan Andi.
Darmawan, F. (Agustus 30, 2019). Overtourism mengancam Indonesia: apa yang harus dilakukan? Dikases pada 21 September 2019 dari https://theconversation.com/overtourism-mengancam-indonesia-apa-yang-harus-dilakukan-122553
Fennel, D. A. (2003). Ecotourism: An Introduction. 2nd Edition. Routledge: London
Goodwin, H. (1995). Tourism and the environment. Biologist, 42(3):129–133.
Hetzer, N.D. (1965). Environment, tourism, culture. LINKS (July); reprinted in Ecosphere (1970) 1(2):1–3.
International Year of Ecotourism. (2002). Quebec Declaration on Tourism. Madrid: WTO
Musadad, M. (2016). Perceived Tourism Impacts In Pindul Cave, Yogyakarta, Indonesia. Journal of Business on Hospitality and Tourism, 02(1), pp. 17-25
Nelson, J.G. (1994). The spread of ecotourism: some planning implications. Environmental Conservation, 21(1):248–255.
Preece, N., van Oosterzee, P., and James, D. (1995). Biodiversity Conservation and Ecotourism: An Investigation of Linkages, Mutual Benefits and Future Opportunities, Canberra: Department of the Environment, Sport, and Territories.
The International Ecotourism Society. (January 7, 2015). TIES Announces Ecotourism Principles Revision. Diakses pada 20 September 2019 dari https://ecotourism.org/news/ties-announces-ecotourism-principles-revision/
Thompson, P. (1995). The errant e-word: putting ecotourism back on track. Explore, 73:67–72
Wondirad, A. (2017). Who benefits from the ecotourism sector in Southern Ethiopia?. International Journal of Tourism Sciences, 17(4), 276–297
Published
2020-12-28
How to Cite
Musadad, Nurlena, & Saeroji, A. (2020). PENGGUNAAN ISTILAH ‘WISATA ALAM’ DAN ‘EKOWISATA’: SEBUAH TELAAH SINGKAT. Journal of Tourism Destination and Attraction , 8(2), 147-154. https://doi.org/10.35814/tourism.v8i2.1664